..Terima Kasih Atas Kunjungannya Di Blog Motholibin Semoga Bermanfa'at Amiin...

Jumat, 04 Januari 2013

MUHAMMADIYAH MEMANG TERBAIK



MUHAMMADIYAH MEMANG TERBAIK
Di susun Oleh : Mutholibin Ulum.
Di sampaikan dalam saresehan diskusi di MABES
Berdasarkan data terbaru (Profil Muhammadiyah) amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan berjumlah 5.797 buah, merupakan angka yang cukup fantastis untuk sebuah lembaga pendidikan yang dinaungi dalam satu payung organisasi dengan rincian ; 1132 Sekolah Dasar ; 1769 Madrasah Ibtidaiyah ; 1184 Sekolah Menengah Pertama; 534 Madrasah Tsanawiyah ; 511 Sekolah Menengah Atas ; 263 Sekolah Menengah Kejuruan ; 172 Madrasah Aliyah ; 67 Pondok Pesantren ; 55 Akademi ; 4 Politeknik ; 70 Sekolah Tinggi dan 36 Universitas yang tersebar di seluruh Indonesia.
Total jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah sebanyak itu merupakan bilangan yang cukup fantastis bagi sebuah organisasi sosial keagamaan dimanapun. Apalagi keberadaan lembaga pendidikan tersebut merupakan pengejawantahan dari model pemahaman keagamaan (keIslaman) di Muhammadiyah. Inilah yang kemudian menjadi sebuah pertanyaan, pemahaman atau idiologi apa yang diterapkan oleh Muhammadiyah dalam mengurusi lembaga pendidikan yang sebesar itu. Mungkin langsung timbul sebuah jawaban dari pertanyaan tersebut “tentu saja idiologi Islam yang di gunakan” karena Muhammadiyah berasaskan Islam (AD/ART Muhammadiyah).
Namun muncul kemudian pertanyaan “mengapa Muhammadiyah dengan idiologi Islam dalam mengurusi lembaga pendidikanya dan organisasinya yang mendekati umur seabad mengalami stagnasi dalam kegiatan tjdid dan tanzihnya. Padahal dengan semangat tajdid dan tanzih lah Muhammadiyah tersebut dilahirkan. Maka pada akhirnya bermunculanlah kritikan bahwa Muhammadiyah telah mengingkari (disorientasi) cita-citanya sebagai gerakan tajdid dan tanzih dengan semangat pembaharuan menjadi “kemapanan”  (established) yang pada akhir kritik menyebutkan bahwa Muhammadiyah ibarat “seekor gajah bengkak”. Maka mendaratlah semua kritikan kepada lembaga pendidikan. Karena pada dasarnya lembaga pendidikanlah yang menentukan masa depan sebuah gerakan, organisiasi, bahkan bangsa sekalipun ditentukan oleh pendidikan bagi masa depannya. Untuk itu pengkajian dan penelitian lebih intensif perlu dilakukan pada lembaga pendidikan Muhammadiyah demi keberlangsungan gerakan Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan dakwah Islam yang notabenenya lembaga pendidikan Muhammadiyah merupakan pencetak kader gerakan Muhammadiyah.
A.      Beberapa Upaya Memajukan Pendidikan Muhammadiyah
Di dalam anggaran dasar muhammadiyah pasal 4 butir C ditegaskan bahwa untuk mencapai maksud dan tujuan persyarikatan Muhammadiyah maka Muhammadiyah berusaha : “Memajukan dan memperbarui pendidikan pengajaran dan kebudayaan serta memperlua ilmu pengetahuan menurut tuntunan Islam” (PP Muhammadiyah,- 1974:8) sehingga melahirkan beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam memajukan pendidikan Muhammadiyah yaitu:
1.      Reorentasi dari pendidikan Muhammadiyakepada nilai-nilai ke-Islaman dengan ruhul jadidnya.
2.      Mencipkan suatu lingkungan pendidikan yang memungkinkan interaksi intensif antar murid, guru dan masyarakat.
3.      Muhammadiyah lebih banyak mendirikan taman kanak-kanak dari lorong-lorong kita sampai kepedesaan.
4.      Banyaknya pendidikan Muhammadiyah yang berorentasi pada kegiatan majlis ekonomi untuk kemajuan pendidikan dengan mendirikan kejuruan tingkat menegah segala dalam bidang seperti bidang pertanian, bidang perdagangan, bidang teknik tekstil, perhubungan, pelayaran, teknologi dan lain sebagainya.[1]

B.     Sejarah Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta Hadiningrat pada tahun 1868, berarti kalau di hitung umur sahabat Muhammad Darwis (Nama waktu Kecilnya) sudah berumur 144 tahun, tetapi namanya masih harum, dan indah untuk di dengar, pemikiranya yang tetap relevan untuk diperbincangkan[2]. Dan semoga sahabat M. Wahyu Prasetiawan, A .Farid Dzulfiqor, M. Anis Yahya, Agus Abdika bisa menyusul  pemikiran-pemikiran beliau yang lebih gemilang.
KH. Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1332 M atau 18 November 1912 atau sekarang berumur 100 tahun pas 1 Abad. Terbentuknya Muhammadiyah karena beliau banyak hubungannya dengan orang-orang terpelajar pada waktu itu. Beliau berkumpul dan bergaul denga dan para pengsiunan, pegawai, pelajar-pelajar dan guru-guru Kweekschool dan lain-liannya. Beliau bergaul dengan para pengurus organisasi Budi Utomo pada waktu itu. Begitu pula almarhum menjadi pengurus Syariat Islam[3]. Carl Whiterington, menyebut bahwa Muhammadiyah memiliki dua wajah sekaligus, pertama sebagai sebuah Gerakan Pemikiran dan tajdid, kyai Dahlan menyebut bahwa Muhammadiyah Islam berkemajuan. Padanya tak ada batasan ruan, tempat dan orang. Siapapun orang Islam berfikir maju, progresif, dan modern itulah Muhammadiyah. Yang kedua, Muhammadiyah sebagai Organisasi Massa yang bergerak di bidang da’wah amar ma’ruf nahi mungkar. Kenyataan ini menuntut batasa yang jelas, ada struktur, anggota, pengurus, nomer baku dan kelengkapan organisasi lainnya.
C.    Model Mengajar Muhammadiyah
Di dalam menyampaikan pelajaran agama KH. Ahmad Dahlan tidak menggunakan pendekatan yang tekstual tetapi konekstual. Karena pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi. Cara belajar-mengajar di pesantren menggunakan sistem Weton dan Sorogal, madrasah Muhammadiyah menggunakan sistem masihal seperti sekolah Belanda.
Bahan pelajaran di pesantren mengambil kitab-kitab agama. Sedangkan di madrasah Muhammadiyah bahan pelajarannya diambil dari buku-buku umum. Hubungan guru-murid. Di pesantren hubungan guru-murid biasanya terkesan otoriter karena para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap sakral. Sedangkan madrasah Muhammadiyah mulai mengembangkan hubungan guru-murid yang akrab.

D. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwasanya KH. Ahmad Dahlan berasal dari keluarga terpandang ayahnya seorang imam khotib masjid besar keraton jogjakarta. ide-ide yang di kemukakan KH. Ahamad Dahlan adalah membawa pembaruan dalam bidang pembentukan lembaga pendidikan islam yang semua sistem pesantren menjadi sistem klasikal, memasukkan pelajaran umum kepada madrasah. meskipun demikian, KH. Dahlan tetap mendahulukan prndidikan moral atau ahlak, pendidikan individu dan pendidikan kemasrakatan.
Apresiasi sejarah terhadap Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan oleh faktor  besarnya partisipasi organisasi ini dalam dunia Pendidikan. Partisipasi Muhammadiyah dalam memperkuat bangsa ini dalam konteks Pendidikan dimulai sejak Muhammadiyah lahir pada tahun 1912. Hal ini mengingat bahwa salah satu faktor yang mendorong lahirnya Muhammadiyah adalah adanya realitas obyektif yang menunjukkan bahwa kondisi  Pendidikan bangsa ini di awal abad 20-an cukup memprihatinkan alias tertinggal. Dalam catatan Amir Hamzah (1985;120) yang mengungkapkan bahwa setidaknya salah satu problem yang dihadapi   umat Islam pada fase awal abad ke- 20 adalah adanya kemunduran Islam yang berpusat di pondok pesantren karena terisolasi dari perkembangan ilmu dan masyarakat modern. Faktor ini terkonfirmasi oleh temuan  Saifullah (1997;28-68) bahwa salah satu yang melatarbelakangi lahirnya Muhammadiyah adalah realitas sosial-pendidikan di Indonesia.
Latar sejarah lahirnya Muhammadiyah ini perlu diungkap untuk mempertegas bahwa kontribusi Muhammadiyah kepada bangsa ini, khususnya dalam dunia pendidikan tidaklah sedikit. Mencatat partisipasi Muhammadiyah dalam dunia pendidikan tidak bermaksud membusungkan dada di hadapan pemerintah atau pihak penyelenggara pendidikan lainnya. Hal ini semata untuk menjelaskan  bahwa ; pertama resouces pendidikan yang dimiliki oleh Muhammadiyah saat ini  bukanlah hasil kerja yang pendek dan sederhana. Data mencatat bahwa dalam rentan waktu satu abad usianya, Muhammadiyah mampu membantu atau mendukung program pendidikan pemerintah dengan menyediakan 1132 Sekolah Dasar ; 1769 Madrasah Ibtidaiyah ; 1184 Sekolah Menengah Pertama; 534 Madrasah Tsanawiyah ; 511 Sekolah Menengah Atas ; 263 Sekolah Menengah Kejuruan ; 172 Madrasah Aliyah ; 67 Pondok Pesantren ; 55 Akademi ; 4 Politeknik ; 70 Sekolah Tinggi dan 36 Universitas yang tersebar di seluruh Indonesia. (Profil Muhammadiyah, 2005). Bahkan Said Tuhuleley, Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengungkapkan bahwa Muhammadiyah memiliki dan mengelola Lembaga Pendidikan sebanyak 10% dari total lembaga pendidikan yang dimiliki Pemerintah.
Dengan demikian, perlu wisdom dari Negara melihat fakta itu untuk terus mendukung dan bekerjasama dengan Muhammadiyah  di bidang pendidikan dalam berbagai bentuk, tanpa harus menimbang dalam perspektif politik semata. Kedua, dalam konteks konsolidasi internal, capaian hasil dari aktivitas pendidikan selama ini menghendaki Muhammadiyah untuk terus mengoreksi kelemahan sambil terus berupaya melakuakukan inovasi baru dalam dunia pendidikan. Ketiga merefleksikan kontribusi Muhammadiyah dalam dunia pendidikan selama Satu Abad untuk mendorong sikap objektif dan fairness bagi setiap kelompok penyelenggara pendidikan di negeri ini untuk saling tepo seliro (saling menghargai), tidak saling merasa hebat dan menonjolkan diri.  Gejala yang muncul saat ini adalah adanya sikap jumawa dari beberapa kelompok yang juga memiliki kuantitas amal usaha pendidikan yang memadai akhirnya cenderung meremehkan atau menyalahkan Muhammadiyah dan penyelenggara pendidikan lainnya..
Meskipun demikian, meskipun sahabat sudah mengetahui apa dan siapa muhammadiyah. Bahkan sahabat tidak perlu tergesa-gesa masuk Muhammadiyah. Sebab sahabat tahu, bahwa apabila orang telah masuk Muhammadiyah maka orang itu akan melakukan/mengamalkan/melaksanakan ajaran-ajaran Islam secara sebenarnya. Dan yang demikian itu bagi yang belum faham, tentu terasa berat. Karena sahabat baru mengetahui dan mengerti apa dan siapa Muhammadiyah mungkin sekali belum memahaminya, maka lebih baik jangan tergasa-gesa minta menjadi anggota Muhammadiyah.



Malang, 28 September 2012
Penulis adalah Kader PMII Rayon “KAWAH”Chondrodimuko
Fakultas Tarbiyah UIN Malang.














LAMPIRAN-LAMPIRAN


ORGANISASI MUHAMMADIYAH
  1. Jaringan Kelembagaan Muhammadiyah:
    • Pimpinan Pusat
    • Pimpinaan Wilayah
    • Pimpinaan Daerah
    • Pimpinan Cabang
    • Pimpinan Ranting
    • Jama'ah Muhammadiyah
  2. Pembantu Pimpinan Persyarikatan
    • Majelis
      • Majelis Tarjih dan Tajdid
      • Majelis Tabligh
      • Majelis Pendidikan Tinggi
      • Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
      • Majelis Pendidikan Kader
      • Majelis Pelayanan Sosial
      • Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan
      • Majelis Pemberdayaan Masyarakat
      • Majelis Pembina Kesehatan Umum
      • Majelis Pustaka dan Informasi
      • Majelis Lingkungan Hidup
      • Majelis Hukum Dan Hak Asasi Manusia
      • Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
    • Lembaga
      • Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
      • Lembaga Pembina dan Pengawasan Keuangan
      • Lembaga Penelitian dan Pengembangan
      • Lembaga Penanganan Bencana
      • Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqqoh
      • Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
      • Lembaga Seni Budaya dan Olahraga
      • Lembaga Hubungan dan Kerjasama International
  3. Organisasi Otonom
    • Aisyiyah
    • Pemuda Muhammadiyah
    • Nasyiyatul Aisyiyah
    • Ikatan Pelajar Muhammadiyah
    • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
    • Hizbul Wathan
    • Tapak Suci



[1] Tim Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, MUHAMMADIYAH, Sejarah, Pemikiran dan Amal Usaha, Cet I, 1990, Pusat Dokumentasi dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Malang.
[2] Dra. Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara bekerjasama dengan Direktorat jendral Pembinaan kelembagaan agama Islam Departemen Agama, cet  9, 2008
[3] KH. AR Fachrudin, Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah, Cet II,  2009, UMM Pres, Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan Lupa Beri Komentar yahcc...!!!