MUHAMMADIYAH MEMANG TERBAIK
Di susun Oleh : Mutholibin Ulum.
Di sampaikan dalam saresehan diskusi di
MABES
Berdasarkan
data terbaru (Profil Muhammadiyah) amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan
berjumlah 5.797 buah, merupakan angka yang cukup fantastis untuk sebuah lembaga
pendidikan yang dinaungi dalam satu payung organisasi dengan rincian ; 1132
Sekolah Dasar ; 1769 Madrasah Ibtidaiyah ; 1184 Sekolah Menengah Pertama; 534
Madrasah Tsanawiyah ; 511 Sekolah Menengah Atas ; 263 Sekolah Menengah Kejuruan
; 172 Madrasah Aliyah ; 67 Pondok Pesantren ; 55 Akademi ; 4 Politeknik ; 70
Sekolah Tinggi dan 36 Universitas yang tersebar di seluruh Indonesia.
Total
jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah sebanyak itu merupakan bilangan yang
cukup fantastis bagi sebuah organisasi sosial keagamaan dimanapun. Apalagi
keberadaan lembaga pendidikan tersebut merupakan pengejawantahan dari model
pemahaman keagamaan (keIslaman) di Muhammadiyah. Inilah yang kemudian menjadi
sebuah pertanyaan, pemahaman atau idiologi apa yang diterapkan oleh
Muhammadiyah dalam mengurusi lembaga pendidikan yang sebesar itu. Mungkin
langsung timbul sebuah jawaban dari pertanyaan tersebut “tentu saja idiologi
Islam yang di gunakan” karena Muhammadiyah berasaskan Islam (AD/ART
Muhammadiyah).
Namun
muncul kemudian pertanyaan “mengapa Muhammadiyah dengan idiologi Islam dalam
mengurusi lembaga pendidikanya dan organisasinya yang mendekati umur seabad
mengalami stagnasi dalam kegiatan tjdid dan tanzihnya. Padahal dengan semangat
tajdid dan tanzih lah Muhammadiyah tersebut dilahirkan. Maka pada akhirnya
bermunculanlah kritikan bahwa Muhammadiyah telah mengingkari (disorientasi)
cita-citanya sebagai gerakan tajdid dan tanzih dengan semangat pembaharuan
menjadi “kemapanan” (established) yang
pada akhir kritik menyebutkan bahwa Muhammadiyah ibarat “seekor gajah bengkak”.
Maka mendaratlah semua kritikan kepada lembaga pendidikan. Karena pada dasarnya
lembaga pendidikanlah yang menentukan masa depan sebuah gerakan, organisiasi,
bahkan bangsa sekalipun ditentukan oleh pendidikan bagi masa depannya. Untuk
itu pengkajian dan penelitian lebih intensif perlu dilakukan pada lembaga
pendidikan Muhammadiyah demi keberlangsungan gerakan Muhammadiyah sebagai
sebuah gerakan dakwah Islam yang notabenenya lembaga pendidikan Muhammadiyah
merupakan pencetak kader gerakan Muhammadiyah.
A.
Beberapa
Upaya Memajukan Pendidikan Muhammadiyah
Di
dalam anggaran dasar muhammadiyah pasal 4 butir C ditegaskan bahwa untuk
mencapai maksud dan tujuan persyarikatan Muhammadiyah maka Muhammadiyah
berusaha : “Memajukan dan memperbarui pendidikan pengajaran dan kebudayaan
serta memperlua ilmu pengetahuan menurut tuntunan Islam” (PP Muhammadiyah,-
1974:8) sehingga melahirkan beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam memajukan
pendidikan Muhammadiyah yaitu:
1. Reorentasi
dari pendidikan Muhammadiyakepada nilai-nilai ke-Islaman dengan ruhul jadidnya.
2. Mencipkan
suatu lingkungan pendidikan yang memungkinkan interaksi intensif antar murid,
guru dan masyarakat.
3. Muhammadiyah
lebih banyak mendirikan taman kanak-kanak dari lorong-lorong kita sampai
kepedesaan.
4. Banyaknya
pendidikan Muhammadiyah yang berorentasi pada kegiatan majlis ekonomi untuk
kemajuan pendidikan dengan mendirikan kejuruan tingkat menegah segala dalam
bidang seperti bidang pertanian, bidang perdagangan, bidang teknik tekstil,
perhubungan, pelayaran, teknologi dan lain sebagainya.[1]
B.
Sejarah
Muhammadiyah
KH.
Ahmad Dahlan dilahirkan di Yogyakarta Hadiningrat pada tahun 1868, berarti
kalau di hitung umur sahabat Muhammad Darwis (Nama waktu Kecilnya) sudah
berumur 144 tahun, tetapi namanya masih harum, dan indah untuk di dengar,
pemikiranya yang tetap relevan untuk diperbincangkan[2].
Dan semoga sahabat
M. Wahyu Prasetiawan, A .Farid Dzulfiqor, M. Anis Yahya, Agus Abdika bisa
menyusul pemikiran-pemikiran beliau yang
lebih gemilang.
KH.
Ahmad Dahlan mendirikan Organisasi Muhammadiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah 1332
M atau 18 November 1912 atau sekarang berumur 100 tahun pas 1 Abad.
Terbentuknya Muhammadiyah karena beliau banyak hubungannya dengan orang-orang
terpelajar pada waktu itu. Beliau berkumpul dan bergaul denga dan para
pengsiunan, pegawai, pelajar-pelajar dan guru-guru Kweekschool dan lain-liannya. Beliau bergaul dengan para pengurus
organisasi Budi Utomo pada waktu itu. Begitu pula almarhum menjadi pengurus
Syariat Islam[3].
Carl Whiterington, menyebut bahwa Muhammadiyah memiliki dua wajah sekaligus, pertama sebagai sebuah Gerakan Pemikiran
dan tajdid, kyai Dahlan menyebut bahwa Muhammadiyah Islam berkemajuan. Padanya
tak ada batasan ruan, tempat dan orang. Siapapun orang Islam berfikir maju,
progresif, dan modern itulah Muhammadiyah. Yang
kedua, Muhammadiyah sebagai Organisasi Massa yang bergerak di bidang da’wah
amar ma’ruf nahi mungkar. Kenyataan ini menuntut batasa yang jelas, ada
struktur, anggota, pengurus, nomer baku dan kelengkapan organisasi lainnya.
C.
Model
Mengajar Muhammadiyah
Di dalam menyampaikan pelajaran agama KH. Ahmad Dahlan tidak menggunakan pendekatan yang tekstual
tetapi konekstual. Karena pelajaran agama tidak cukup hanya dihafalkan atau
dipahami secara kognitif, tetapi harus diamalkan sesuai situasi dan kondisi. Cara belajar-mengajar di pesantren menggunakan sistem Weton dan Sorogal,
madrasah Muhammadiyah menggunakan sistem masihal seperti sekolah Belanda.
Bahan pelajaran di pesantren mengambil kitab-kitab
agama. Sedangkan di madrasah Muhammadiyah bahan pelajarannya diambil dari
buku-buku umum. Hubungan
guru-murid. Di pesantren hubungan guru-murid biasanya terkesan otoriter karena
para kiai memiliki otoritas ilmu yang dianggap sakral. Sedangkan madrasah
Muhammadiyah mulai mengembangkan hubungan guru-murid yang akrab.
D. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas penulis dapat menyimpulkan
bahwasanya KH. Ahmad Dahlan
berasal dari keluarga terpandang ayahnya seorang imam
khotib masjid besar keraton
jogjakarta. ide-ide yang di kemukakan KH. Ahamad
Dahlan adalah membawa
pembaruan dalam bidang pembentukan lembaga pendidikan islam yang semua sistem
pesantren menjadi sistem klasikal, memasukkan pelajaran umum kepada madrasah.
meskipun demikian, KH. Dahlan
tetap mendahulukan prndidikan moral atau ahlak, pendidikan individu dan
pendidikan kemasrakatan.
Apresiasi sejarah terhadap Muhammadiyah
tidak bisa dilepaskan oleh faktor besarnya partisipasi organisasi ini
dalam dunia Pendidikan. Partisipasi Muhammadiyah dalam memperkuat bangsa ini
dalam konteks Pendidikan dimulai sejak Muhammadiyah lahir pada tahun 1912. Hal
ini mengingat bahwa salah satu faktor yang mendorong lahirnya Muhammadiyah
adalah adanya realitas obyektif yang menunjukkan bahwa kondisi Pendidikan
bangsa ini di awal abad 20-an cukup memprihatinkan alias tertinggal. Dalam
catatan Amir Hamzah (1985;120) yang mengungkapkan bahwa setidaknya salah satu
problem yang dihadapi umat Islam pada fase awal abad ke- 20 adalah
adanya kemunduran Islam yang berpusat di pondok pesantren karena terisolasi
dari perkembangan ilmu dan masyarakat modern. Faktor ini terkonfirmasi oleh
temuan Saifullah (1997;28-68) bahwa salah satu yang melatarbelakangi
lahirnya Muhammadiyah adalah realitas sosial-pendidikan di Indonesia.
Latar sejarah lahirnya Muhammadiyah ini
perlu diungkap untuk mempertegas bahwa kontribusi Muhammadiyah kepada bangsa
ini, khususnya dalam dunia pendidikan tidaklah sedikit. Mencatat partisipasi
Muhammadiyah dalam dunia pendidikan tidak bermaksud membusungkan dada di
hadapan pemerintah atau pihak penyelenggara pendidikan lainnya. Hal ini semata
untuk menjelaskan bahwa ; pertama resouces pendidikan
yang dimiliki oleh Muhammadiyah saat ini bukanlah hasil kerja yang pendek
dan sederhana. Data mencatat bahwa dalam rentan waktu satu abad usianya,
Muhammadiyah mampu membantu atau mendukung program pendidikan pemerintah dengan
menyediakan 1132 Sekolah Dasar ; 1769 Madrasah Ibtidaiyah ; 1184 Sekolah
Menengah Pertama; 534 Madrasah Tsanawiyah ; 511 Sekolah Menengah Atas ; 263
Sekolah Menengah Kejuruan ; 172 Madrasah Aliyah ; 67 Pondok Pesantren ; 55
Akademi ; 4 Politeknik ; 70 Sekolah Tinggi dan 36 Universitas yang tersebar di
seluruh Indonesia. (Profil Muhammadiyah, 2005). Bahkan Said Tuhuleley, Pakar
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengungkapkan bahwa Muhammadiyah
memiliki dan mengelola Lembaga Pendidikan sebanyak 10% dari total lembaga
pendidikan yang dimiliki Pemerintah.
Dengan demikian, perlu wisdom
dari Negara melihat fakta itu untuk terus mendukung dan bekerjasama dengan
Muhammadiyah di bidang pendidikan dalam berbagai bentuk, tanpa harus
menimbang dalam perspektif politik semata. Kedua, dalam konteks
konsolidasi internal, capaian hasil dari aktivitas pendidikan selama ini
menghendaki Muhammadiyah untuk terus mengoreksi kelemahan sambil terus berupaya
melakuakukan inovasi baru dalam dunia pendidikan. Ketiga
merefleksikan kontribusi Muhammadiyah dalam dunia pendidikan selama Satu Abad
untuk mendorong sikap objektif dan fairness bagi setiap kelompok
penyelenggara pendidikan di negeri ini untuk saling tepo seliro (saling
menghargai), tidak saling merasa hebat dan menonjolkan diri. Gejala
yang muncul saat ini adalah adanya sikap jumawa dari beberapa kelompok
yang juga memiliki kuantitas amal usaha pendidikan yang memadai akhirnya
cenderung meremehkan atau menyalahkan Muhammadiyah dan penyelenggara pendidikan
lainnya..
Meskipun demikian, meskipun sahabat sudah mengetahui
apa dan siapa muhammadiyah. Bahkan sahabat tidak perlu tergesa-gesa masuk
Muhammadiyah. Sebab sahabat tahu, bahwa apabila orang telah masuk Muhammadiyah
maka orang itu akan melakukan/mengamalkan/melaksanakan ajaran-ajaran Islam
secara sebenarnya. Dan yang demikian itu bagi yang belum faham, tentu terasa
berat. Karena sahabat baru mengetahui dan mengerti apa dan siapa Muhammadiyah mungkin
sekali belum memahaminya, maka lebih baik jangan tergasa-gesa minta menjadi
anggota Muhammadiyah.
Malang,
28 September 2012
Penulis
adalah Kader PMII Rayon “KAWAH”Chondrodimuko
Fakultas Tarbiyah UIN Malang.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
ORGANISASI MUHAMMADIYAH
- Jaringan Kelembagaan Muhammadiyah:
- Pimpinan Pusat
- Pimpinaan Wilayah
- Pimpinaan Daerah
- Pimpinan Cabang
- Pimpinan Ranting
- Jama'ah Muhammadiyah
- Pembantu Pimpinan Persyarikatan
- Majelis
- Majelis Tarjih dan Tajdid
- Majelis Tabligh
- Majelis Pendidikan Tinggi
- Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
- Majelis Pendidikan Kader
- Majelis Pelayanan Sosial
- Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan
- Majelis Pemberdayaan Masyarakat
- Majelis Pembina Kesehatan Umum
- Majelis Pustaka dan Informasi
- Majelis Lingkungan Hidup
- Majelis Hukum Dan Hak Asasi Manusia
- Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
- Lembaga
- Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
- Lembaga Pembina dan Pengawasan Keuangan
- Lembaga Penelitian dan Pengembangan
- Lembaga Penanganan Bencana
- Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqqoh
- Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
- Lembaga Seni Budaya dan Olahraga
- Lembaga Hubungan dan Kerjasama International
- Organisasi Otonom
- Aisyiyah
- Pemuda Muhammadiyah
- Nasyiyatul Aisyiyah
- Ikatan Pelajar Muhammadiyah
- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
- Hizbul Wathan
- Tapak Suci
[1] Tim
Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, MUHAMMADIYAH,
Sejarah, Pemikiran dan Amal Usaha, Cet I, 1990, Pusat Dokumentasi dan
Publikasi Universitas Muhammadiyah Malang.
[2] Dra.
Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam, Bumi Aksara bekerjasama dengan Direktorat
jendral Pembinaan kelembagaan agama Islam Departemen Agama, cet 9, 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar